Munculnya Jasad Penghafal Al Quran Di Tengah Malam
Jasad siswa SDIT Insan Mulia atas nama Muhammad Hanan ditemukan di lokasi tak jauh dari Air Terjun Coban Talun, Selasa (11/12/2018) sekitar
pukul 23:58 WIB.
Kepala BPBD Batu Sasmito menyatakan di lokasi masih ada tim SAR BPBD dan garda relawan.
Pencarian sebenarnya sudah dihentikan sekitar pukul 20.00 wib.
"Ketika tim yang ada di lokasi menunggu hingga esok, jasad keluar dari dalam air dan mengapung. Tim langsung mengevakuasi korban," kata Sasmito kepada SURYA.co.id,
Rabu (12/12/2018).
Lokasinya juga tidak jauh dari diketemukannya dua korban yaitu atas nama Nasywa Azalia Hanaia (9) dan Tazkiya Rahmatulloh Al Kamila (9).
Jenazah Taskiya lebih dulu ditemukan pukul 18.45 WIB.
Lalu jenazah Nasywa ditemui pukul 19.30 WIB.
Tenggelam saat Outbond
Diberitakan sebelumnya tiga siswa SD Islam Terpadu Insan Mulia, Malang, tenggelam di Air Terjun Coban Talun, Kota Batu, Selasa (11/12/2018).
Peristiwa itu terjadi ketika mereka sedang mengikuti kegiatan outbound atau mancakrida.
Tiga siswa kelas tiga yang juga penghafal Alquran (hafiz) itu adalah Nasywa Azalia Hanaia (9), asal Jalan Simpang Kepuh RT 5, RW 5, Kelurahan Bandungrejosari, Sukun,
Kota Malang, Muhammad Hanan (9), asal Jalan Kebonsari RT 4 RW 2 Kelurahan Bandungrejosari, Sukun, Kota Malang, dan Tazkiya Rahmatulloh Al Kamila asal Niwen, Wagir,
Kabupaten Malang.
Jenazah Taskiya ditemui pukul 18.45 WIB. Lalu jenazah Nasywa ditemukan pukul 19.30 WIB.
Sedangkan Hanan hingga Selasa (11/12/2018) malam belum ditemukan.
Heri Yunatan, ayah dari Muhammad Hanan yang juga datang ke lokasi kejadian hanya diam dan tak banyak mengeluarkan kata-kata. Wajahnya pun tampak pucat.
Ketua Yayasan SD Islam Terpadu Insan Mulia Malang, Agus Cahyono yang datang ke lokasi kejadian terlihat tak mampu menahan air mata. Ia juga meneriakan takbir.
Setelah tenang, Agus mulai bercerita jika kegiatan mancakrida itu dilangsungkan selama dua hari. Y
akni untuk Kelas 4, 5, dan 6 digelar mulai Senin (10/12/2018) hingga Selasa (11/12/2018). Kemudian disusul kelas 1,2, dan 3 pada Selasa (11/12/2018).
"Sebenarnya outbound sudah selesai. Namun tidak tahu kenapa ada yang sampai turun bermain di air terjun," ungkapnya.
Ia menyebutkan jumlah siswa yang ikut kelas 4,5,dan 6 ada 40 siswa. Lalu kelas 1,2, dan 3 ada 68 siswa.
Sedangkan para wali murid yang menunggu anaknya di SD yang terletak di Jl Janti Selatan, Kecamatan Sukun, awalnya mengaku tidak mengetahui insiden tiga siswa yang
tenggelam.
Para Wali Murid datang ke SDIT Insan Mulia untuk menjemput anaknya yang juga ikut mancakrida ke Coban Talun.
Sepengetahuan mereka, seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan itu. Khusus untuk kelas 4-6, mereka berangkat sejak Senin dan menginap.
"Belum tahu. Ya Allah, semoga semua baik-baik saja," kata wali murid bernama Rini ketika ditemui di SDIT Insan Mulia.
Wali murid lain, Ayu, juga mengatakan tidak mengetahui perihal tiga siswa yang tenggelam saat mengikuti outbound di Coban Talun.
Sama seperti Rini, ia berniat menjemput anaknya yang saat ini duduk di kelas 2.
"Guru bilang anak-anak bisa dijemput pukul 17.00 WIB. Tapi saya nggak tahu kalau ada anak tenggelam itu," katanya.
Berniat Menolong
Tim SAR saat melakukan pencarian
Tak berselang lama rombongan siswa dari Coban Talun tiba di sekolah. Para siswa ini menumpang angkot.
Angkutan kota yang pertama mengangkut siswa kelas 2. Selanjutnya menyusul empat angkot yang mengakut siswa kelas 1 dan kelas 3.
Begitu mengetahui para siswa datang, salah satu wali murid bernama Rini langsung menghampiri anaknya bernama Ahdan, yang duduk di banku kelas 1.
Pada kesempatan itu Ahdan menceritan kejadian di Coban Talun. Ia mengaku melihat kakak kelasnya terjatuh di Coban Talun.
Kata Ahdan, kakak kelasnya itu berniat menolong temannya yang terlebih dulu terpeleset saat bermain air.
"Pertama ditolong Bu Guru, tapi Bu Guru juga tidak bisa berenang. Akhirnya kakak itu ikut tenggelam juga," kata Ahdan.
Ahdan kemudian diminta oleh guru untuk menepi dan berkumpul bersama teman sekelasnya.
"Iya terus Bu guru bilang suruh minggir dan berkumpul," ujar Ahdan.
Salah satu guru SDIT Insan Mulia yang baru saja datang dari Coban Talun menolak memberikan keterangan. "Mohon maaf nanti biar kepala sekolah saja yang menjelaskan," katanya.
Sudah Diingatkan
Sementara itu Kepala BPBD Batu Sasmito menjelaskan kejadian itu awalnya guru dan siswa tidak ada niat untuk menuju air terjun.
Namun karena penasaran, akhirnya siswa kelas 1,2, dan 3 bersama empat orang guru menuju air terjun.
"Mereka ini hanya outbond sebetulnya. Dan ketika sampai di air terjun, dari 68 siswa itu yang masuk ke dalam hanya 3 siswa dan 4 guru," kata Sasmito.
Ia menjelaskan sekira pukul 14.00 WIB rombongan dari SDIT Insan Mulia Malang menuju lokasi air terjun.
Sebelum siswa ini berenang, ada petugas yang sudah memperingatkan guru dan murid, namun tidak digubris.
Selang beberapa waktu terdengar suara minta tolong.
Munculnya Jasad Penghafal Al Quran Jelang Tengah Malam Dari Dalam Air
Kemudian salah satu penjaga dan penjual yang ada di Air Terjun Coban Talun mendapati beberapa korban yang terbawa pusaran arus.
"Saat itulah, ada salah satu warga yang berhasil menarik satu korban yang tersedot arus bawah. Namun ada tiga siswa yang tidak bisa diselamatkan," bebernya.
Debit Air Tinggi
Dani Dwi Santoso, Garda Relawan BPBD Batu, menyatakan pencarian korban sempat menggunakan jangkar.
"Tim memberhentikan pencariannya tidak menyelam karena kondisi air yang dingin. Dan debit air yang tinggi. Tim kedinginan, dan pencarian menggunakan jangkar," kata
Dani.
Kesulitan lainnya juga karena pusaran air semakin deras, dan jika diteruskan akan membahayakan tim pencarian.
Apalagi ketika lampu penerangan dalam air digunakan jarak pandang hanya 20 centimeter.
"Setelah dua jenazah ditemukan pencarian kami hentikan. Dua jenazah dibawa ke Rumah Sakit Hasta Brata," kata dia.

Comments
Post a Comment